Namanya Amirah. Setelah magrib, ia datang ke rumah sambal menengteng tas berwarna ping di tangannyi. Kebetulan yang menyambutnyi di depan rumah adalah istri. 

"Teh May, bisa enggak benerin tas ini. Ininya rusak..." Sambil mengangkat tas ke atas, paparnyi.

"Nanti besok mau dipake lagi tasnya..." tambahnyi.

Padahal beberapa waktu yang lalu dirinyi juga pernah membawa tas berwarna ping, dengan bentuk yang berbeda dan ukurannya juga beda. Sepertinya tas yang itu sudah rusak lagi.

Namanyi juga anak-anak. Tapi dia sudah keren, bisa ngasih deadline, tanpa diminta. Jelas, ini keren abis.

Tas itu rensletingnya sudah menganga. Tak mau mengunci antar keduanya. Sehingga tak bisa lagi digunakan. Bagian rensleting yang rusak tersebut kebetulan dibagian tas paling besar.

Intinya bagian yang amat vital, karena digunakan untuk meletakkan buku-buku. Kompartemen utama di tas, memang sering dibuka tutup. Jadinya wajar banget kalau rensletingnya rusak duluan.

Saat istri masih di kamar shalat, lengkap dengan mukenanyi. Diceklah tas merah muda yang dibawa anak esde tadi. Rensleting yang tadinya sudah dicopot, coba dipasangkan lagi. Pasangnya pakai perasaan dan yang pasti menggunakan perhitungan juga. Sehingga saat kepala rensleting terpasang di jalurnya bisa kembali normal.

Katanyi yang tadi rusak, sekarang sudah bener. Terpasang dengan baik dan saling mengunci kedua sisinya saat ditutup. Alhasil tinggal dijahit ujungnya supaya tidak lagi rusak kembali. Dijahit manual pakai tangan. Bahkan, jahitan yang sudah mulai memudar, kembali dijahit agar tidak cepat koyak. Minimal menguatkan kembali jahitan yang sudah aus karena intensitas penggunaan.

Semoga dengan jahitan baru, akan menambah kuat dan tidak mudah lepas lagi. Dengan begitu, secara otomatis bertambah pula jatah kebermanfaatan tas tersebut.

Pagi-pagi sekali ia sudah datang ke rumah. Sepertinyi sudah tidak sabar dengan tas yang baru diperbaikinyi. Saat melihat tasnyi yang sudah kembali utuh, mukanyi sangat senang. Hal ini bisa dibuktikan pada saat ia menanyakan harganyi. Saat uang lima ribu yang disuguhkan, uang itu dianggap kebesaran sebagai bayar jasa reparasinyi.

Di saat akan dikasih uang kembalian, kata anak esde tadi katanyi, "Sudah gak usah..." sambil berlalu pergi dengan tas yang baru diperbaiki. /Amha[]