Apakah segala sesuatu yang ditambal itu merupakan aib? 

Pertanyaan di atas sebagai pemantik yang penulis ajukan dalam permulaan tulisan ini. Tesis sederhana yang diajukan, silakan dijawab secara seksama sesuai dengan kemampuan keilmuan saudara saat ini. Jika iya, sertakan alasannya. 

Begitu juga jika jawabannya tidak setuju, silakan kemukakan alasannya.

***

Bagi Penulis sendiri, tampilan itu bukanlah menjadi ukuran, atau tolok ukur untuk menilai seseorang. Kenapa demikian? Sederhana saja, tidak mesti yang bersurban adalah Kiayi atau ustadz. Pasalnya banyak dijumpai di kampung-kampung, mereka yang "agak kurang" akalnya sangat suka dengan pakaian kiayi seperti di atas. Bagi orang baru, atau pendatang yang tidak tahu, bisa dipastikan sampe cium tangan kalau diajak salaman. Hehehe.. ini faktanya.

Atau jika kita benturkan dengan fakta lain, misalnya saja; mereka yang sudah "finansial free" rata-rata hanya kaosan, pakaian yang tidak mencolok. Bandingkan dengan mereka yang butuh validasi dari orang lain, mereka akan menunjukkan dengan pakaian yang branded dan terkesan berbeda.