Karena dapat amanat langsung dari Pak Budi Harzaman untuk nge-handle lomba kriya, maka coba berpikir apa yang perlu dipersiapkan. Tanya2 ke pak budi juga terkait batasan dan tema kriya kali ini. Dari pak Budi juga dikasih panduan terkait kriteria kriya tahun ini.
Ide yang ditawarkan ke pak budi buat hiasan kaligrafi dari jerami padi. Pertimbangannya ketersediaan bahan melimpah serta sedikit sekali yang memanfaatkan jerami. Ide yang kedua, membuat mobilan dari sedotan dengan metode jarum panas yang dibakar lilin.
Setelah berjalannya waktu, dan dapat suport terkait pendanaan. Tetap saja masih merasa bingung, mau ambil yang mana.
Setelah berpikir lama, dan mendapatkan siswa yang akan dijadikan perwakilan dalam kriya, semua berubah total. Anaknya baru kelas tiga, jenis kelaminnya perempuan. Setelah diberi tugas membuat garis lurus dengan ketebalan yang berbeda, lalu hasilnya tidak sesuai. Maka perubahan metode juga dilakukan.
Bahannya cukup dipindah menggunakan kertas kopi, lalu dibakar/diarsir menggunakan pirograhpy. Cara ini bisa dijadikan formula untuk memangkas maktu serta menjaga konsistensi gambar yang akan dibuat nanti. Hasilnya lumayan mengesankan. Hanya saja butuh kejelian dan konsentrasi dalam penggunaan pirography-nya.
Pilihan kaligrafi yang menggunakan khat kufi juga menjadi dasar yang penting. Sebab penggunaan khat ini sudah banyak digunakan dan bentuknya sangat modern. Ketika diaplikasikan bisa menjadi pembeda dengan kaligrafi pada umumnya. Cukup simpel, tetapi esensi seni dan artistiknya juga tak kalah bermain.
Media yang digunakan saat latihan adalah papan kayu. Untuk tugas awal, siswa diarahkan untuk mengarsir bagian dalam. Dibagian latihan kedua, siswa ditugaskan untuk mengarsir bagian luar. Setelah hasilnya selesai, siswa dimintai pendapat, gambar mana yang hasilnya lebih timbul dan lebih menarik.
Dari hasil tersebut siswa sudah mulai mengenali mana yang perlu diprioritaskan dalam pengerjaan dan ketelatenan serta kekonsistenan dalam menggerakkan tarikan goresan.
Hari perlombaan
Sebelum berangkat, siswa diminta untuk kumpul dahulu di sekolah. Tak lupa, material bahan dan tatacara yang perlu dilakukan, kembali disampaikan ke siswa.
Kemarin sore, sebelum pulang ke rumah, menyempatkan diri untuk mencari logo FLS2N dan dicetak ke kertas a4. Sebab dikhawatirkan pengerjaannya terlalu cepat beres maka dibuatlah gambar tambahan. Atau memanfaatkan waktu, menunggu kaligrafi yang dijemur kering siswa bisa sambil mengerjakan gambar lain.
Dengan kata lain, jatah waktu yang diberikan bisa menghasilkan banyak karya/variasi. Terbukti. Saat orang lain hanya menghasilkan satu karya, siswa bimbingan kami bisa membuat dua karya yang berbeda sekaligus.
Mungkin ini juga yang jadi pertimbangan kenapa kami bisa diberikan hadiah terbaik ketiga. Tapi, sebagai pebimbing pribadi, letaknya ada dalam kesalahan dalam mengarsir. Andai yang diarsirnya bagian luar, tentu hasilnya akan berbeda. Tulisan akan lebih timbul dan artistiknya juga lebih keluar. Hasilnya, bukan tidak mungkin keluar sebagai terbaik pertama malahan.















0 Komentar