Saat lomba yang lain sudah menemukan siswanya, untuk lomba menulis cerita masih belum dapat. Sore itu kebetulan ada siswa yang ikut nonton temannya yang latihan menari. Karena tahu akan kemampuan dasarnya, maka siswa tersebut dijadikan pilihan terakhir.

Namanya Sri Auliyah, atau biasa dipanggil Uul oleh teman kelas lima. Ia bisa mengetik lumayan lancar di laptop dan kemampuan membacanya juga sudah sangat baik. Cuma butuh beberapa penjelasan terkait penggunaan tanda baca serta cara penulisan yang benar sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Materi segera dibuat dan diberikan. Ide cerita yang diangkat juga sesuai dengan pengalaman pribadi. Kakaknya pernah mendapat kejadian yang menarik serta bahan pelajaran untuk para pembaca nantinya.

Karena jalan ceritanya hanya separuh maka yang ditulis juga sekenanya, yang terpenting jumlah kata sesuai dengan batas minimal dari ketentuan yang panitia buat. Seketika itu juga diprint dan diserahkan kepada Uul.

"Ini dibaca-baca, besok pagi kesini. Kita latihan...." Sambil menyerahkan dua lembar kertas.

Drama terjadi, Awalnya ia kekeh tak mau. Tetapi dijelaskan kembali kepadanya, kalau tugas dia cuma membaca dan memahami ceritanya. Lalu ditulis ulang dengan menggunakan bahasa sendiri.

Ia berdalih jika orang lain saja yang ditunjuk. Karena temannya mau.

"Temanmu gak tahu betul kisahnya, sebab dia gak ngalamin. Kalau kamu mah, setidaknya sudah satu langkah dibandingkan dengan temanmu. Kalau temanmu tugasnya double. Harus ngapal, dan juga harus menuliskannya..." Berusaha meyakinkan.

Akhirnya Uul mau juga menerima kertas yang berisi cerita tentang Kakaknya.

Esok paginya, kakanya hadir ke sekolah. Maka digali kembali cerita aslinya, dari awal mula kejadian hingga proses dibawa berobat ke klinik.

Isi cerita diubah dan diedit. Lalu diberikan ke Uul. Drama kedua kembali terjadi. Ia kekeh tak mau ditunjuk untuk mewakili lomba menulis cerita. Kertas yang sudah diprint dengan versi terbaru, tak mau diterimanya.

Sampai Bu Imas dimintai tolong untuk meyakinkan. Lalu dibantu juga dengan meyakinkan yang lebih ampuh. Teks yang digunakan mendongeng sama-sama dua lembar, tetapi spasinya cuma 1, dan tugasnya memahami, menghafal dan membawakannya di depan orang banyak.

Sedangkan menulis, dua halaman juga barisnya jauh. Kalau spasinya dibuat seperti mendongeng, cuma butuh satu kertas doang. Terus tugasnya juga cuma menulis ulang, tidak butuh mengeluarkan suara lagi di depan orang banyak.

Mungkin, karena mendengar perbandingan di atas, akhirnya Uul juga dapat menimbang serta menerima kertas   yang sudah direvisi.

Tak lupa, jurus jitu untuk bisa menguasainya yaitu cukup dibaca 11 kali. Pagi dibaca 11 kali balikan, siang dibaca 11 kali balikan, sore dibaca 11 kali balikan dan malam dibaca 11 kali balikan. Di rumah, jangan lupa dibantu dengan cara ditulis ulang hasil bacaannya di kertas yang baru.

Kalau mendengar jurus jitu ini, pasti gak akan pernah gagal.

Hari Perlombaan

Menulis cerita dapat tempat di antara gor dan kantor korwil. Tadinya mau lesehan, tapi karena pertimbangan lain akhirnya menggunakan kursi yang ada di gor.

Awalnya juri membahas ketentuan lomba. Tetapi sebelmum memulai, saya usul untuk dicek juga kondisi baterai para peserta. Alhasil, ada yang laptopnya sudah sekarat dan mesti cepat-cepat diisi daya.

Guru yang bertugas mendampingi pun berdalih jika laptop yang digunakan dibawa guru lain dan tak sempat dicas selepas dipakai. Alhasil dayanya mengkhawatirkan dan dalam komdisi darurat.

Barulah panitia panik dan mencari kabel colokan. Kebetulan di perlombaan kriya di bagian sebelah ada yang menggunakan colokan listrik untuk lem tembak. Cuma butuh kabel colokan yang tidak terlalu panjang untuk bisa sampai ke laptop peserta lomba.

Durasi waktunya cukup lama, semua peserta juga dapat menyelesaikan tugasnya. Hanya saja setelah para juri menilai hasil karyanya, banyak sekali kata pengulangan dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat.

Sehingga, dari hasil penilaian punya Uul dinyatakan sebagai terbaik pertama dalam lomba menulis cerita.

____