Heru membuka pintu bangunan itu dan masuk ke dalamnya. Ia melihat-lihat sekeliling, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia memutuskan untuk mencari lebih lanjut, berharap bahwa ia dapat menemukan Ningsih.

Setelah beberapa menit mencari, Heru mendengar suara langkah kaki di koridor. Ia langsung menuju ke arah suara itu, berharap bahwa itu adalah Ningsih. Ketika ia membalikkan sudut, ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

Wanita itu memiliki rambut panjang dan hitam, dan mata yang indah. Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang ketika ia melihat wanita itu. Apakah itu Ningsih?

Ketika wanita itu semakin dekat, Heru dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Ia merasa bahwa wajah itu familiar, tetapi ia tidak dapat mengingat siapa wanita itu.

"Siapa kamu?" tanya wanita itu ketika ia melihat Heru.

"Aku Heru," jawab Heru. "Aku mencari seseorang. Apakah kamu tahu siapa aku?"

Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu siapa kamu," kata wanita itu. "Tetapi aku dapat membantu kamu mencari orang yang kamu cari."

Heru merasa bahwa wanita itu tampaknya baik hati dan dapat dipercaya. Ia memutuskan untuk meminta bantuan wanita itu.

"Aku mencari Ningsih," kata Heru. "Aku telah mencarinya selama 360 hari, tetapi aku belum menemukannya."

Wanita itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Aku tahu siapa Ningsih," kata wanita itu. "Aku dapat membantumu menemukannya."

Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang ketika ia mendengar kata-kata wanita itu. Apakah wanita itu benar-benar dapat membantunya menemukan Ningsih?

"Bagaimana kamu tahu tentang Ningsih?" tanya Heru.

Wanita itu tersenyum dan mengangkat bahu. "Aku memiliki teman yang mengenal Ningsih," kata wanita itu. "Aku dapat membantumu menemukannya, tetapi kamu harus mempercayaiku."

Heru merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain mempercayai wanita itu. Ia memutuskan untuk mengikuti wanita itu dan melihat apa yang akan terjadi.

Mereka berdua berjalan menuju ke sebuah tempat yang tersembunyi di dalam bangunan itu. Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang ketika ia melihat Ningsih yang sedang duduk di sebuah sofa.

"Ningsih!" seru Heru, berlari menuju ke arah Ningsih.

Ningsih tersenyum dan berdiri, membuka tangannya untuk memeluk Heru. Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang ketika ia memeluk Ningsih.

"Aku telah mencarimu selama 360 hari," kata Heru, menahan air mata.

Ningsih tersenyum dan memeluk Heru lebih erat. "Aku juga mencarimu, Heru," kata Ningsih. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

Heru merasa bahwa hatinya penuh dengan kebahagiaan ketika ia memeluk Ningsih. Ia tidak akan pernah melepaskan Ningsih lagi.

Tetapi, ketika mereka sedang memeluk, Heru mendengar suara yang tidak asing. Suara itu membuat Heru merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa yang terjadi?" tanya Heru, melepaskan pelukan dengan Ningsih.

Ningsih tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak ada yang terjadi, Heru," kata Ningsih. "Kita hanya perlu berhati-hati."

Heru merasa bahwa Ningsih tidak memberitahu seluruh kebenaran. Ia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan sekarang, Heru sedang mencari jawaban atas pertanyaan itu. Apakah Ningsih menyembunyikan sesuatu darinya? Apakah ada bahaya yang mengancam mereka?

Bersambung...