Heru memandang sekeliling, mencari sumber suara yang mengancam itu. Ia tidak melihat siapa pun, tapi ia bisa merasakan adanya kehadiran yang tidak diinginkan. Ningsih memegang tangan Heru lebih erat, dan ia bisa merasakan getaran ketakutan di tubuhnya.

"Kita harus pergi dari sini," kata Heru, menarik Ningsih untuk berjalan menjauh dari tempat itu. "Kita tidak bisa menunggu sampai musuh kita menemukan kita."

Ningsih mengangguk, dan mereka berdua berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Heru terus memandang sekeliling, mencari tanda-tanda bahaya. Ia tidak tahu siapa musuh mereka, tapi ia tahu bahwa ia harus melindungi Ningsih.

Ketika mereka berjalan, Heru mendengar suara itu lagi. Kali ini, suara itu lebih keras dan lebih dekat. Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang, dan ia tahu bahwa mereka harus bergerak lebih cepat.

"Kita harus berlari," kata Heru, menarik Ningsih untuk berlari. "Kita tidak bisa menunggu lagi."

Ningsih mengangguk, dan mereka berdua berlari secepat mungkin. Heru terus memandang ke belakang, mencari tanda-tanda musuh mereka. Ia tidak melihat siapa pun, tapi ia bisa merasakan bahwa mereka semakin dekat.

Tiba-tiba, Ningsih menarik tangan Heru dan berhenti berlari. "Tunggu," kata Ningsih, menatap sesuatu di depan mereka. "Kita tidak bisa pergi ke sana."

Heru memandang ke depan dan melihat bahwa mereka sedang berdiri di tepi hutan yang lebat. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam hutan itu, tapi ia tahu bahwa mereka harus memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

"Apa yang kita lakukan?" tanya Heru, menatap Ningsih dengan penuh pertanyaan.

Ningsih terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Kita harus masuk ke dalam hutan," kata Ningsih. "Kita tidak bisa menunggu di sini."

Heru merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam hutan itu, tapi ia tahu bahwa mereka harus melindungi diri mereka sendiri.

Mereka berdua masuk ke dalam hutan, dan Heru terus memandang sekeliling, mencari tanda-tanda bahaya. Ia tidak tahu apa yang akan mereka temui di dalam hutan itu, tapi ia tahu bahwa mereka harus siap untuk menghadapi apa pun.

Ketika mereka berjalan lebih dalam ke dalam hutan, Heru mendengar suara-suara yang aneh. Ia tidak tahu apa yang membuat suara-suara itu, tapi ia bisa merasakan bahwa mereka semakin dekat dengan musuh mereka.

Tiba-tiba, Ningsih menarik tangan Heru dan menunjuk ke depan. "Lihat," kata Ningsih, menatap sesuatu di depan mereka.

Heru memandang ke depan dan melihat sebuah bangunan tua yang tersembunyi di antara pepohonan. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam bangunan itu, tapi ia bisa merasakan bahwa itu adalah tempat yang penting.

"Kita harus masuk ke dalam bangunan itu," kata Ningsih, menarik tangan Heru. "Kita mungkin bisa menemukan jawaban di sana."

Heru mengangguk, dan mereka berdua masuk ke dalam bangunan tua itu. Di dalam, mereka menemukan ruangan yang penuh dengan benda-benda antik dan misterius.

Tiba-tiba, Heru mendengar suara yang familiar. "Selamat datang, Heru dan Ningsih," kata suara itu.

Heru memandang sekeliling, mencari sumber suara itu. Ia melihat seorang pria tua yang berdiri di sudut ruangan, menatap mereka dengan mata yang tajam.

"Siapa Anda?" tanya Heru, merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan.

"Aku adalah orang yang tahu segalanya tentang Ningsih," kata pria tua itu, menatap Ningsih dengan mata yang penuh dengan rahasia. "Dan aku akan memberitahu kamu apa yang sebenarnya terjadi."

Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang, dan ia tahu bahwa mereka harus siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya. 

Bersambung....

___