Pernah tidak, saudara bertemu dengan orang asing atau orang yang baru dikenal, tetapi langsung nyambung. Meskipun usianya bisa dibilang cukup jauh, tetapi banyak kesamaannya. Hobinya sama, pemikirannya sama, sampai passionnya juga sama.
Pokoknya langsung klik.
Ngobrol juga langsung betah dari A hingga Z keluar semua. Betah berlama-lama, meski ngobrolnya ngalor ngidul; senggol sana senggol sini. Tambah asyik dan seolah gak ada ujungnya.
"Ibu suka nulis di kompasiana juga?..." Tanyaku. Sambil membuka obrolan.
"Iya, sempat vakum karena kegiatan teralihkan. Tapi sekarang sudah mulai lagi. Bapak suka nulis di Kompasiana juga?..." Tanya balik Bu Imas.
Akhirnya kami pun ngobrol panjang. Sampai-sampai, waktu makan siang Bu Imas ikutan terjeda gegara diajak ngobrol oleh diriku yang sok tahu dan amatiran. Bahkan levelnya di kompasiana juga baru sampai debutan, sedangkan Bu Imas sudah Penjelajah, jika tidak salah ingat. Nanti dicek kembali akunnya. Hehehehe...
Beliau adalah kepala sekolah pagadungan 6 kalau tidak salah. Tetapi yang paling pasti, sekolahnya terletak di kampung Pasir Putri. Dekat rumah Bibi. Rumah beliau di Ciliang, kadu merak.
BERTEMU KAWAN LAMA
Sewaktu di kampus Jogja, kami tergabung dalam pemandu atau pendamping mahasiswa baru untuk program pesantrenisasi yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII).
Meski berbeda angkatan, kami sering bertemu dan berkumpul bareng jika dapat giliran gelombang pesantrenisasi yang sama.
Firman, anak FMIPA angkatan 2012. Asalnya dari Cigadung - Pandeglang. Tetapi, waktu di pesantrenisasi tidak secara detail letak rumahnya ada di mana. Selain itu, tidak tahu bakal dapat istri orang Pandeglang, jadi kenalnya cuma sekedarnya saja.
Semenjak menikah, pencarian dengannya sudah dilakukan. Tapi, cuma alakadarnya dan tipis-tipis saja.
Pernah suatu ketika papasan di jalan. Tapi, karena kondisinya sedang ngebut dan ada kesibukan yang tak bisa ditinggal, akhirnya cuma bisa berharap bertemu di lain waktu. Hingga waktu pertemuan itu akhirnya terwujud.
Dari sekolah dapat tugas dampingi anak-anak untuk lomba di Kecamatan Koroncong. Firman dan istri mengantar pesanan snack dari panitia. Saat itulah dirinya kusapa duluan. Kontaknya kupinta dan kami saling bertukaran.
Bahkan, setelah tanya-tanya ke kakak ipar, rupanya istrinya Firman masih sepupuan dengan kakak ipar. Malahan, sang kakak ketika fotonya ditunjukkan, langsung bisa mengenali wajahnya. "Ini mah mita..." Jawab kakak, Spontan. Ketiak foto profil Whatsapp-nya ditunjukkan.















0 Komentar