Langit sore itu muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan hujan yang enggan turun. Di sebuah balai desa sederhana, warga mulai berdatangan menghadiri acara syukuran panen yang digelar rutin tiap tahun. Di antara kerumunan, dua pasang mata secara tak sengaja saling bertemu: Rohmat dan Isah.
 
Tak ada yang istimewa dari pertemuan mereka saat itu, selain detik yang sejenak terasa lambat. Rohmat yang biasa pendiam, mendadak lupa dengan tujuannya datang. Isah yang biasanya percaya diri, tiba-tiba gugup menarik kerudungnya agar lebih menutup wajah.
 
Mereka saling mengenal, tentu saja. Tinggal satu desa, hanya berbeda dusun. Tapi mereka tak pernah benar-benar bercakap. Hanya sapaan seadanya jika tak sengaja berpapasan di jalan, itu pun seringnya hanya berupa senyum singkat yang segera disimpan dalam diam.
 
Rohmat, 27 tahun, seorang petani muda yang tekun. Orangtuanya sudah lama meninggal, dan ia tinggal sendiri mengelola sawah warisan keluarga. Hidupnya lurus, sederhana, nyaris tak pernah tersentuh gosip cinta-cintaan.
 
Isah, 25 tahun, guru honorer di sekolah dasar desa. Lembut, ramah, dan selalu bisa membawa tawa. Meski banyak yang mencoba mendekat, entah kenapa hatinya tak pernah tertambat. Dan hari itu, di tengah keramaian dan musik dangdut yang menggema dari panggung sederhana, hatinya justru bergetar karena pandangan lelaki pendiam yang tak pernah berani menatap langsung.
 
Mereka duduk tak jauh, tapi tak juga saling menyapa. Hanya sesekali mata mereka bertemu, lalu buru-buru dialihkan. Tak ada yang tahu, di dada masing-masing, ada gejolak yang mulai tumbuh.
 
Acara berjalan ramai. Tawa, tepuk tangan, dan senda gurau mewarnai malam. Namun bagi Rohmat dan Isah, semua itu terasa kabur. Dunia mereka seolah hanya berisi dua orang—saling diam, tapi penuh harap.
 
Sejak malam itu, Rohmat jadi sering melewati jalan depan rumah Isah, pura-pura lewat sambil membawa hasil panen ke pasar. Isah pun mulai suka duduk di beranda saat sore, berharap bisa melihat Rohmat melintas.
 
Tak ada kata yang terucap. Tapi keduanya tahu, ada rasa yang perlahan tumbuh. Getar hati yang malu-malu hadir di sela hari-hari biasa.
 
Beberapa kali mereka bertemu di warung kopi, di pasar, atau di musala. Selalu ada momen singkat ketika mata mereka bertemu, dan senyum kecil mengembang tanpa sadar. Namun, tak satu pun dari mereka yang punya keberanian untuk membuka suara tentang apa yang sesungguhnya dirasakan.
 
Mungkin karena takut ditolak. Mungkin karena merasa tak cukup pantas. Atau mungkin karena merasa, cukup dengan saling tahu.
 
Suatu sore, hujan turun deras. Isah sedang berteduh di pos ronda saat Rohmat lewat membawa karung berisi jagung. Melihat Isah menggigil, Rohmat berhenti.
 
"Kamu kedinginan?" tanyanya, pelan.
 
Isah mengangguk, lalu tersenyum. "Sedikit. Tapi nggak apa-apa."
 
Tanpa banyak bicara, Rohmat meletakkan karungnya, lalu duduk di ujung bangku. Jarak mereka hanya sebatas lengan, tapi rasanya sejauh langit dan bumi. Hujan jadi saksi, bagaimana dua hati saling berdebar namun tetap bungkam.
 
"Aku sering lihat kamu duduk di beranda," ujar Rohmat tiba-tiba.
 
Isah menoleh cepat, wajahnya memerah. "Aku… cuma suka lihat hujan sore."
 
"Hmm," Rohmat mengangguk. "Aku juga suka lewat situ."
 
Ada jeda. Lalu keheningan. Hujan masih turun.
 
Dan seperti biasanya, tak ada kelanjutan dari percakapan itu. Mereka hanya diam, menatap hujan, menyembunyikan perasaan yang tak kunjung diucapkan.
 
Waktu berjalan. Musim berganti. Desas-desus mulai terdengar—Isah dilamar oleh seorang guru dari kota sebelah. Seorang lelaki baik, mapan, dan tampan.
 
Rohmat mendengar kabar itu dari tetangganya. Hatinya mencelos, tapi wajahnya tetap datar. Tak ada yang tahu, malam itu ia duduk lama di pematang sawah, menatap langit kosong.
 
Isah, di sisi lain, bingung. Lamaran itu datang dengan tiba-tiba. Ia belum menjawab, tapi orangtuanya tampak senang. Lelaki itu datang dengan niat baik, dan keluarga Isah merasa ini adalah kesempatan yang terlalu baik untuk ditolak.
 
Namun hati Isah masih tertambat pada senyum malu-malu Rohmat. Pada diamnya yang hangat, pada tatapannya yang jujur. Tapi sampai detik itu, Rohmat tak pernah mengungkapkan apa-apa. Dan Isah terlalu takut berharap.
 
Sampai akhirnya, hari itu datang juga.
 
Di pelataran rumah Isah, tenda biru berdiri. Undangan tersebar. Isah akan menikah minggu depan.
 
Rohmat tak datang ke acara walimah itu. Ia hanya menatap dari jauh, dari jalan kecil di balik pohon mangga. Hatinya kosong, tapi ia tahu, ini salahnya juga. Ia terlalu lama diam. Terlalu takut untuk jujur.
 
Isah berdiri anggun di pelaminan, namun matanya sesekali mencari. Dan ketika ia tak menemukan sosok yang ditunggu, ia tahu, ini memang jalan yang harus ia tempuh.
 
Kasih mereka hanya sampai di batas diam. Cinta yang tumbuh tanpa pernah diberi kata.
 
Beberapa bulan setelah pernikahan itu, Rohmat mulai jarang terlihat. Ia pindah ke kota untuk bekerja sebagai pengelola gudang hasil tani. Ia pergi tanpa pamit, tanpa kata perpisahan.
 
Isah masih tinggal di desa, melanjutkan tugasnya sebagai guru. Suaminya lelaki baik, tak pernah menyakitinya. Tapi di malam-malam sunyi, kadang kenangan akan hujan di pos ronda itu kembali hadir. Membawa senyum yang hanya bisa dikenang, bukan dimiliki.
 
Dan Rohmat, di sela kesibukannya di kota, kadang duduk sendiri sambil menulis di buku kecilnya. Tentang senyum yang tak sempat ia miliki, dan tentang cinta yang tak pernah ia ungkapkan.
 
Kasih mereka adalah kasih yang tak sampai. Tapi justru karena itu, ia abadi.

__