Pria tua itu tersenyum, dan Heru bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Ningsih bukan siapa-siapa yang kamu pikir," kata pria tua itu. "Dia memiliki rahasia yang sangat besar, dan aku akan memberitahu kamu apa yang sebenarnya terjadi."
Heru merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan pertanyaan. Apa yang pria tua itu maksudkan? Siapa Ningsih sebenarnya? Ia menatap Ningsih, dan melihat bahwa Ningsih terlihat sangat marah.
"Aku tidak percaya," kata Ningsih, menatap pria tua itu dengan mata yang penuh dengan kemarahan. "Apa yang kamu inginkan dari kami?"
Pria tua itu tersenyum lagi. "Aku ingin memberitahu kamu kebenaran tentang dirimu sendiri," kata pria tua itu. "Kamu tidak tahu siapa kamu sebenarnya, Ningsih. Kamu memiliki darah bangsawan yang sangat kuat, dan kamu memiliki kekuatan yang sangat besar."
Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang. Apa yang pria tua itu maksudkan? Apakah Ningsih benar-benar memiliki darah bangsawan? Ia menatap Ningsih, dan melihat bahwa Ningsih terlihat sangat terkejut.
"Tidak mungkin," kata Ningsih, menatap pria tua itu dengan mata yang penuh dengan keraguan. "Aku tidak memiliki darah bangsawan. Aku hanya seorang gadis biasa."
Pria tua itu tertawa. "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ningsih," kata pria tua itu. "Kamu memiliki kekuatan yang sangat besar, dan kamu memiliki darah bangsawan yang sangat kuat. Kamu adalah keturunan dari seorang raja yang sangat kuat, dan kamu memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan musuh-musuhmu."
Heru merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan pertanyaan. Apa yang pria tua itu maksudkan? Apakah Ningsih benar-benar memiliki kekuatan yang sangat besar? Ia menatap Ningsih, dan melihat bahwa Ningsih terlihat sangat terkejut.
Tiba-tiba, suara-suara keras terdengar dari luar ruangan. Pria tua itu menatap ke arah suara-suara itu, dan Heru bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa yang terjadi?" tanya Heru, menatap pria tua itu dengan penuh pertanyaan.
Pria tua itu menatap Heru dengan mata yang tajam. "Musuh-musuhmu telah menemukan kita," kata pria tua itu. "Kita harus pergi dari sini sekarang juga."
Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang. Ia menatap Ningsih, dan melihat bahwa Ningsih terlihat sangat ketakutan.
"Kita harus pergi," kata Heru, menarik Ningsih untuk berjalan menjauh dari tempat itu. "Kita tidak bisa menunggu lagi."
Pria tua itu mengangguk, dan mereka berdua berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Di luar, mereka melihat bahwa musuh-musuh mereka telah mengepung bangunan itu.
"Kita harus berlari," kata pria tua itu, menarik Heru dan Ningsih untuk berlari. "Kita tidak bisa menunggu lagi."
Heru merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia tahu bahwa mereka harus melindungi diri mereka sendiri.
Mereka berlari secepat mungkin, tapi musuh-musuh mereka semakin dekat. Heru bisa merasakan bahwa mereka semakin dekat dengan kematian.
Tiba-tiba, Ningsih menarik tangan Heru dan berhenti berlari. "Tunggu," kata Ningsih, menatap sesuatu di depan mereka.
Heru memandang ke depan, dan melihat bahwa mereka sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Ia tidak tahu apa yang ada di bawah jurang itu, tapi ia tahu bahwa mereka harus memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Apa yang kita lakukan?" tanya Heru, menatap Ningsih dengan penuh pertanyaan.
Ningsih menatap Heru dengan mata yang tajam. "Kita harus melompat," kata Ningsih. "Kita tidak bisa menunggu lagi."
Heru merasa bahwa hatinya berdegub kencang. Apakah Ningsih benar-benar ingin melompat ke jurang yang sangat dalam itu? Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia tahu bahwa mereka harus siap untuk menghadapi apa pun.
Dan tiba-tiba, Ningsih menarik tangan Heru dan melompat ke jurang yang sangat dalam itu...
(Bersambung)
___















0 Komentar