Di tengah kampung yang tenang dan penuh sejarah, terletaklah makam Tegalkoang di Kampung Cibusung. Tempat ini dikenal karena seorang tokoh bernama Syekh Mahmud atau lebih akrab disapa Kibuyut Mahmud, yang konon adalah putra dari Syekh Abdul Jabar Katamanik Karangtanjung. 

Namun, mengenai silsilahnya masih menjadi misteri dan belum ada bukti pasti yang mengukuhkan jalur keturunannya. Hingga kini, para ahli nasab terus berusaha mencari sumber yang dapat mengungkap kebenaran tersebut.

Makam Tegalkoang tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Kibuyut Mahmud, tetapi juga menjadi destinasi ziarah bagi banyak orang. Di sana, sebuah saung kecil dibangun menyerupai rumah, tetapi hanya berfungsi sebagai kamar sederhana untuk para peziarah. 

Saung ini memberikan tempat teduh bagi mereka yang ingin berdoa dan merenung, mencari berkah dari sosok yang mereka yakini memiliki karomah.

Pohon karoya, atau beringin, yang telah berusia ratusan tahun, tumbuh megah di tengah makam, memberikan kesan sakral dan sejuk bagi siapa saja yang datang. Namun, di penghujung tahun 2023, sebuah angin puting beliung melanda kampung tersebut. 

Angin yang kencang dan tak terduga itu merobohkan pohon beringin yang selama ini menjadi saksi bisu sejarah panjang di Tegalkoang. Tumbangnya pohon itu mengundang rasa duka mendalam dari warga sekitar dan para peziarah.

Saat berita tentang angin puting beliung tersebar, Ujang, seorang pemuda yang tinggal tak jauh dari makam, segera berlari ke lokasi. Dia tumbuh besar dengan mendengar cerita-cerita tentang Kibuyut Mahmud dari kakeknya. Ujang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan makam tersebut. Sesampainya di sana, dia melihat puing-puing pohon beringin yang tergeletak di tanah. Ujang merasakan kesedihan yang mendalam, seolah-olah kehilangan seorang sahabat lama.

Dengan bantuan warga lain, Ujang berinisiatif untuk membersihkan area tersebut. Mereka bekerja keras sepanjang hari, mengumpulkan ranting dan batang pohon yang berserakan. Meski lelah, semangat mereka tak surut. Di sela-sela kerja keras itu, Ujang berbicara dengan para tetua kampung, mencari cara terbaik untuk menjaga dan melestarikan makam tersebut.

"Kita harus membangun kembali tempat ini," ujar Ujang dengan suara penuh tekad. "Makam ini bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang kita dan identitas kita sebagai warga Kampung Cibusung."

Para tetua setuju. Mereka berencana menanam pohon beringin baru, sebagai simbol kelanjutan sejarah dan harapan baru bagi generasi mendatang. Ujang, bersama warga lainnya, mulai menggali lubang besar di tengah makam, tempat pohon beringin baru akan ditanam. Setiap cangkul yang mereka ayunkan terasa berat, tetapi penuh dengan semangat kebersamaan dan cinta terhadap warisan leluhur.

Beberapa minggu kemudian, pohon beringin baru mulai tumbuh di Tegalkoang. Meski masih kecil, pohon itu membawa harapan bagi banyak orang. Para peziarah kembali datang, bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk melihat pohon baru yang menjadi simbol dari keteguhan hati dan semangat mereka.

Di bawah naungan pohon beringin yang baru, Ujang sering duduk dan merenung, merasakan kehadiran Kibuyut Mahmud yang seakan memberkati setiap langkah mereka. Pohon itu, meski masih muda, berdiri tegak sebagai saksi baru dari cerita panjang Tegalkoang, mengingatkan semua orang bahwa sejarah dan tradisi akan selalu hidup dan berkembang, selamanya.

Kisah dari para sesepuh dan orangtua zaman dahulu, yang kini menjadi makam datau kuburan itu (Tegalkoang) dulunya adalah perkampungan. Entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya berubah menjadi kuburan dan kampungnya pindah ke Cibusung.


Amha
____