Rabu, 4 Oktober 2023 kemarin, jadwal posyandu bulanan. Posyandu Melati itulah namanya. Dibawah struktur Desa Karangsetra, Kecamatan Koroncong - Pandeglang.Makanan pendamping yang diberikan hari itu, untuk anak-anak yang menimbang badan ialah bubur kacang hijau.
Tetapi ada yang aneh dengan bubur tersebut. Aromanya mengeluarkan bau lumpur atau "endut" (begitulah kami biasa menyebutnya). Endut ialah endapan lumpur yang sudah lama bercampur dengan dedaunan busuk di dalam air, sehingga mengeluarkan bau yang amat menyengat.
Jadi, ketika bubur tersebt dicium, keluarlah bau busuk yang sama seperti dari dedaunan yang terendam air dan lumpur itu menimbulkan bau. Begitulah kira-kira gambaran sederhananya.
Tetapi dari sisi rasa, memang tak ada masalah. Akan tetapi hal yang demikian itu dapat merusak mood bagi siapa saja yang akan menyantapnya.
Pertanyaan sederhana dari permasalahan di atas ialah : 1). Siapa yang memasak bubur tersebut? 2). Bahan-bahan apa sajakah yang digunakan? 3). Jenis air yang digunakan untuk memasak Bubur kacang hijau tersebut? 4). Tak kalah pentingnya ialah, apakah bubur tersebut sempat dicicipi terlebih dahulu ataukah tidak sama yang masak?
Jika empat hal di atas diragukan jawabannya, jelas kompetensi/kemampuan tukang masak perlu dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawabannya. Pasalnya, kalua bubur kacang tersebut disajikan kepada yang masaknya, apakah Si tukang masaknya mau dan mampu menghabiskan satu bungkus atau satu mangkuk saja bubur tersebut?
Dengan aromanya yang mengeluarkan bau busuk tersebut, penulis merasa yang masaknya juga tidak akan mampu menghabiskan tantangan di atas, jika aromanya sudah demikian.
KESIMPULAN
Jangan menganggap remeh makanan. Terlebih utuk ke-higienis-an dan mutunya. Apalagi, ini untuk kebutuhan POSYANDU, yang sedang gencar-gencarnya mengentaskan program STUNTING. Syukur-syukur, kebutuhan gizi serta vitaminnya juga diutamakan dan diperhatikan.
Jika masih terjadi seperti ini, bulshit dengan namanya mengentaskan "STUNTING". Kenyataannya, masih saja tidak paham dengan makna stunting itu sendiri. Minimal cara memasak dan menyuguhkan makanannya saja model beginian. Sungguh sangat disayangkan.
Melihat kejadian seperti ini, penulis memiliki pengamatan dna penilaian tersendiri. Misalnya aja, dalam menjalankan program setengah hati, tetapi untuk masalah danaisasi sepenuh hati. "Kana Program asal-asalan, kana duitna mah paheula-heulaan..."
Jika tidak mampu dan tidak becus, gampang kok! Cukup angkat tangan, atau angkat bendera putih lalu bilang "menyerah". Itu lebih terhormat dan elegan. Jangan seolah belaga mampu, tetapi aslinya tidak becus dan dipaksakan.
Kasihan mereka yang jadi korban. Terekndalanya pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus masa depan. Mungkin efeknya tidak terasa sekarang, tetapi akan dirasakan nanti kemudian.
Tabik!!!
















0 Komentar